
“Apakah kau lihat yang ada di sana, Jib?”
Aku melihatnya.
“Tahukah kau apa itu?”
Aku tahu.
“Beritahukan padaku apa itu!”
Itu planet Venus.
“Planet itu bersinar seperti bintang ya?”
Iya, makanya planet itu dikenal sebagai bintang kejora.
“Bintang yang bersinar terang di ufuk timur itu?”
Iya benar, planet itu juga disebut bintang timur.
“Saat ini bintang itu terlihat sangat cemerlang dari sini.”
Dan dikenal juga dengan sebutan bintang pagi.
“Tapi sekarang ini kan siang hari, Jib…”
Kalau begitu, itu bukanlah bintang kejora, bintang timur atau bintang pagi.
“Lalu, itu bintang apa?”
Mungkin, itu bukanlah sebuah bintang.
“Kalau itu bukanlah sebuah bintang, lalu apakah itu?”
Aku tak tahu.
“Kalau begitu, tolong antarkan aku ke sana!”
Untuk apa?
“Aku ingin mengetahui apa yang bersinar terang itu.”
Jadi, kau ingin aku membawamu ke sana?
“Tentu saja, segera terbangkan aku ke sana!”
Tapi, sepertinya aku takkan sanggup mencapainya.
“Lho, memang kenapa?”
Mungkin, diriku akan habis terbakar bila terlalu dekat dengannya.
“Ya sudahlah, antarkan aku semampumu, bawa aku sedekat mungkin dengannya!”
Setelah aku cukup jauh membawamu ke sana?
“Setelah itu, lemparkan aku sekuat tenagamu, dorong aku sejauh-jauhnya ke arah sana!”
Tapi, bila lemparanku tak cukup sampai padanya, kau akan jatuh.
“Tidak apa-apa, paling tidak aku pernah sedemikian dekat dengannya.”
Lalu, setelah kau jatuh?
“Aku akan bangkit dan berlari ke sana, Jib.”
Sampai kapan?
“Sampai sinarnya itu lenyap atau malah yang bersinar itu jatuh!”
Jika itu tak pernah terjadi?
“Aku akan terus berlari, entah sampai berapa kehidupan..”
Dan?
“..hingga ada kehidupan yang mengaruniai aku sepasang sayap yang dapat menerbangkanku ke sana..”
…?
“..aku akan datang kepadanya, dan terbakar bersamanya!”
Jl. Jelambar Utama Raya, Jakarta Barat (Selasa, 26 Januari 2010)